DIMENSI
MATERIAL, FORMAL, NORMATIF, dan SPIRITUAL
Tulisan
ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu P. Mat PPs UNY 2013
Refleksi
perkuliahan Mata Kuliah Filsafat Ilmu, Prodi P. Mat Kelas C
berdasarkan
penyampaian Prof. Dr. Marsigit Jum'at, 4 Oktober 2013, Ruang 103 Gedung Lama PPs UNY
ditulis
oleh MUSLIM
(13709251061)
DIMENSI
MATERIAL, FORMAL, NORMATIF, DAN SPIRITUAL
Pertanyaan-pertanyaan
Mahasiswa sudad ada atau sudah tersedia jawabannya dalam elegi-elegi. Jawaban
itu bersifat inplisit yaitu tidak nampak
secara langsung melainkan abstrak. Apa itu berpikir intensif dan ekstensif?
Berpikir intensif yaitu berpikir
dalam sedalam-dalamnya untuk mencari hakikat, sedangkan berpikir ekstensif yaitu berpikir luas
seluas-luasnya, sempit sesempit-sempitnya untuk menemukan hakikat.
Ketika
pertanyaan dijawab dari dimensi material sampai dimensi spiritual, itu adalah
berpikir intensif yakni mengintensifkan istilah atau makna atau bahasa, membuat
sebagian dengan cara yang sangat kasar. Material, formal, normative dan
spiritual itu berdimensi dan dimensinya satu dengan yang lainnya meliputi
dimensi yang lainnya.
Dimensi
material: bagaimana manusia memaknai
benda di sekitanya. Orang yang melihat pasir di sungai, subyeknya berdimensi,
yang dipikirkan berdimensi, obyeknya pun berdimensi.
Formal: ada dalam diri manusia sendiri, keluarga, hubungan suami-istri,
tetangga, bermasyarakat, bersekolah, berkantor, dalam lingkup suatu budaya,
sampai formal yang universal. Jangkauan formal yakni formal menyangkut yang
in-formal. Misalnya jika kedatangan tamu di rumah kita, sikap dan penampilan
kita menunjukkan keformalan kita. Karena terbiasa, melewati kucing pun misalnya
harus bilang permisi, karena kebiasaan juga posisi duduk saat kuliah pun
menunjukkan tingkat keformalan kita, tapi bentuk formalitasnya berbeda-beda.
Bentuk
formal itu menjamin, karena formal itu wadah. Wadah dapat menjamin subsatansi. Wadah
tanpa isi kosong, isi tanpa wadah juga tidak memiliki makna. Kedua-duanya
saling terkait. Pembicaraan materi perkuliahan, jika diberikan di terminal maka
tidak akan ada gunanya karena tidak tercatat sebagai suatu perkuliahan.
Begitupun Kecelakaan, ada yang formal ada yang tidak formal. SIM adalah bentuk
formal, kecelakaan yang pelakunya tidak memiliki SIM maka tidak berhak untuk
mendapatkan Jasa Raharja karena tidak resmi. Maka jangan meremehkan formalitas.
Material
dari cinta adalah cincin, cincin tahan lama dan mudah
dibawa kemana-mana.
Formalnya
adalah pernikahan karena menikah
menjamin hak dan kewajiban. Namun ada orang yang mengambil jalan pintas dalam
hal pernikahan dengan memisahkan antara cinta dan pernikahan. Karena tidak
dapat menanggung hak dan kewajiban dalam pernikahan. Normatif dari cinta adalah
romantisme.
Dalam
konteks filsafat tidak hanya manusia yang bercinta, kambing-kambing bercinta,
tumbuh-tumbuhan bercinta, batu-batu bercinta dan makhluk lain pun bercinta. Romantisme
adalah suatu jalan yang tidak mudah, cinta-Nya Sang Maha Kuasa.
Berfilsafat,
kita mampu menganalogikan sesuatu. Berfikir adalah bergerak. Batu jatuh dari
bukit atau tebing adalah berfikir bebannya berat namun penompangnya kecil.
Gelombang laut juga berpikir keadaannya besar dan lembut dan terdapat angin
kencang yang meniupnya. Sunatullah.
Kecerdasan
sopan santun terhadap dimensi ada empat yakni material, formal, normatif dan
spiritual. Setiap yang ada dan yang mungkin ada mempunyai dimensi dan bahasa
masing-masing.
Bagaimana
Arjuna bercinta, cerita Mahabarata. Akan berbeda dengan bagaimana dengan preman
bercinta.
Cinta
seorang preman hanya akan mempengaruhi kondisi gang. Namun cinta Sang
Proklamator mempengaruhi kondisi rakyat Jepang dan rakyat Indonesia.
Bagaimana
jika dewa yang bercinta?
Berbeda
lagi, bagaimana jika orang filsafat yang bercinta……….?
Filsafat
bercinta adalah romantisme. Etika, Estetika, Idealis, dst.
Filsafat
itu halus, lembut, memperhalus dan memperlembut diri sendiri.
“Tutur kata dan sikap manusia menunjukkan filsafat
diri manusia itu sendiri.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar