Kamis, 10 Oktober 2013

Refleksi MATERIAL, FORMAL, NORMATIF dan SPIRITUAL



DIMENSI MATERIAL, FORMAL, NORMATIF, dan SPIRITUAL

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu P. Mat PPs UNY 2013
Refleksi perkuliahan Mata Kuliah Filsafat Ilmu, Prodi P. Mat Kelas C
berdasarkan penyampaian Prof. Dr. Marsigit Jum'at, 4 Oktober 2013, Ruang 103 Gedung Lama PPs UNY
ditulis oleh MUSLIM (13709251061)

DIMENSI MATERIAL, FORMAL, NORMATIF, DAN SPIRITUAL

Pertanyaan-pertanyaan Mahasiswa sudad ada atau sudah tersedia jawabannya dalam elegi-elegi. Jawaban itu bersifat inplisit yaitu tidak nampak secara langsung melainkan abstrak. Apa itu berpikir intensif dan ekstensif? Berpikir intensif yaitu berpikir dalam sedalam-dalamnya untuk mencari hakikat, sedangkan berpikir ekstensif yaitu berpikir luas seluas-luasnya, sempit sesempit-sempitnya untuk menemukan hakikat.
Ketika pertanyaan dijawab dari dimensi material sampai dimensi spiritual, itu adalah berpikir intensif yakni mengintensifkan istilah atau makna atau bahasa, membuat sebagian dengan cara yang sangat kasar. Material, formal, normative dan spiritual itu berdimensi dan dimensinya satu dengan yang lainnya meliputi dimensi yang lainnya.

Dimensi material: bagaimana manusia memaknai benda di sekitanya. Orang yang melihat pasir di sungai, subyeknya berdimensi, yang dipikirkan berdimensi, obyeknya pun berdimensi.
Formal: ada dalam diri manusia sendiri, keluarga, hubungan suami-istri, tetangga, bermasyarakat, bersekolah, berkantor, dalam lingkup suatu budaya, sampai formal yang universal. Jangkauan formal yakni formal menyangkut yang in-formal. Misalnya jika kedatangan tamu di rumah kita, sikap dan penampilan kita menunjukkan keformalan kita. Karena terbiasa, melewati kucing pun misalnya harus bilang permisi, karena kebiasaan juga posisi duduk saat kuliah pun menunjukkan tingkat keformalan kita, tapi bentuk formalitasnya berbeda-beda.
Bentuk formal itu menjamin, karena formal itu wadah. Wadah dapat menjamin subsatansi. Wadah tanpa isi kosong, isi tanpa wadah juga tidak memiliki makna. Kedua-duanya saling terkait. Pembicaraan materi perkuliahan, jika diberikan di terminal maka tidak akan ada gunanya karena tidak tercatat sebagai suatu perkuliahan. Begitupun Kecelakaan, ada yang formal ada yang tidak formal. SIM adalah bentuk formal, kecelakaan yang pelakunya tidak memiliki SIM maka tidak berhak untuk mendapatkan Jasa Raharja karena tidak resmi. Maka jangan meremehkan formalitas.

Material dari cinta adalah cincin, cincin tahan lama dan mudah dibawa kemana-mana.
Formalnya adalah pernikahan karena menikah menjamin hak dan kewajiban. Namun ada orang yang mengambil jalan pintas dalam hal pernikahan dengan memisahkan antara cinta dan pernikahan. Karena tidak dapat menanggung hak dan kewajiban dalam pernikahan. Normatif dari cinta adalah romantisme.

Dalam konteks filsafat tidak hanya manusia yang bercinta, kambing-kambing bercinta, tumbuh-tumbuhan bercinta, batu-batu bercinta dan makhluk lain pun bercinta. Romantisme adalah suatu jalan yang tidak mudah, cinta-Nya Sang Maha Kuasa.

Berfilsafat, kita mampu menganalogikan sesuatu. Berfikir adalah bergerak. Batu jatuh dari bukit atau tebing adalah berfikir bebannya berat namun penompangnya kecil. Gelombang laut juga berpikir keadaannya besar dan lembut dan terdapat angin kencang yang meniupnya. Sunatullah.

Kecerdasan sopan santun terhadap dimensi ada empat yakni material, formal, normatif dan spiritual. Setiap yang ada dan yang mungkin ada mempunyai dimensi dan bahasa masing-masing.

Bagaimana Arjuna bercinta, cerita Mahabarata. Akan berbeda dengan bagaimana dengan preman bercinta.
Cinta seorang preman hanya akan mempengaruhi kondisi gang. Namun cinta Sang Proklamator mempengaruhi kondisi rakyat Jepang dan rakyat Indonesia.
Bagaimana jika dewa yang bercinta?
Berbeda lagi, bagaimana jika orang filsafat yang bercinta……….?
Filsafat bercinta adalah romantisme. Etika, Estetika, Idealis, dst.

Filsafat itu halus, lembut, memperhalus dan memperlembut diri sendiri.

“Tutur kata dan sikap manusia menunjukkan filsafat diri manusia itu sendiri.”









Tidak ada komentar:

Posting Komentar