ALIRAN FILSAFAT YANG MENGALIR (BERKEMBANG)
Filsafat
ilmu berkembang dari masa ke masa sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta realitas sosial. Dimulai dengan aliran tetap yang digagas oleh Permenides dan aliran berubah yang digagas
oleh Heraclitos. Setelah itu pada aliran tetap muncul aliran Idealisme yg
tokohnya Plato sedangkan pada aliran berubah muncul aliran Realisme yg tokohnya
Aristoteles. Kemudian berkembang pada aliran rasionalisme-empirisme oleh Immanuel Kant sampai pada
aliran kritisisme dan positivisme oleh August Comte.
Idealisme adalah sebuah istilah yang digunakan
pertama kali dalam dunia filsafat
oleh Leibniz. Pada awal abad ke-18 ia menerapkan
istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankan dengan materialisme
Epikuros.
Istilah Idealisme adalah aliran filsafat yang memandang bahwa yang mental dan
ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas. Dari abad ke-17 sampai permulaan
abad ke-20
istilah ini banyak dipakai dalam pengklarifikasian filsafat. Sedangkan Realisme dilihat sebagai reaksi terhadap aliran romantik.
Realisme berusaha menggambarkan hidup dengan sejujur-jujurnya tanpa prasangka
dan tanpa usaha memperindahnya. Aliran ini didorong oleh semangat zaman yang
mementingkan kegiatan yang rasional dan kemajuan ilmu pengetahuan pada abad
ke-19. Abad
ke-19 adalah abad penuh perubahan dalam sejarah peradaban Barat. Perubahan itu
mencakup pertumbuhan 1) nasionalisme yang sangat kuat, 2) kelas menengah, dan
3) aspirasi atau slogan kebebasan. Pada abad
ke-19 Inggris merajai dunia. Britania memerintah serta menguasai
samudera dan dunia. Hal itu disebabkan adanya revolusi industri dan penemuan
Charles Darwin dalam khazanah ilmu pengetahuan dan teorinya, yaitu teori
evolusi.
Rasionalisme
adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian,
logika, dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu
bagian dari renaissance atau pencerahan dimana timbul perlawanan terhadap
gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh
logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari
segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika
yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada logika matematika.
Pandangan ini sangat popular pada abad ke-17. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes (1596-1650),
Benedictus de Spinoza – biasa dikenal: Barukh Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz
(1646-1716), Blaise Pascal (1623-1662)
Empirisisme
adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran
belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi
yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Francis Bacon (1561-1624) seorang filsuf
Empirisme pada awal abad Pencerahan menulis dalam salah satu karyanya Novum
Organum yaitu segala kebenaran hanya
diperoleh secara induktif yaitu melalui pengalaman dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui
kesimpulan dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul
sebagai akibat ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak
belakang dengan Rasionalisme yang mengutamakan akal. Tokoh-tokohnya adalah John
Locke (1632-1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776).
Kebenaran dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman.
Setelah itu muncul Filsafat Kritisisme merupakan
filsafat yang terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio
sebelum melakukan pencarian kebenaran. Tokoh yang terkenal dari aliran ini
adalah Immanuel Kant (1724-1804). Filsafatnya dikenal dengan Idealisme-Transendental atau Filsafat Kritisisme. Menurutnya,
pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam kesadaran dan
pikiran dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman (aposteriori).
Pada abad ke-19 muncul Filsafat positivisme oleh Auguste Comte yang membatasi kajian filsafat
ke hal-hal yang dapat dijustifikasi (diuji) secara empirik.
Positivisme diturunkan dari kata positif, filsafat ini
berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Positivisme hanya membatasi diri pada apa yang tampak,
segala gejala. Dengan demikian positivisme mengesampingkan metafisika karena
metafisika bukan sesuatu yang real, yang tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Positivisme, suatu aliran filsafat yang
menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan
menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya
spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
Positivisme
merupakan bentuk lain dari empirisme, yang mana keduanya mengedepankan
pengalaman. Yang menjadi perbedaan antara keduanya adalah bahwa positivisme hanya
membatasi diri pada pengalaman-pengalaman yang objektif, tetapi empirisme
menerima juga pengalaman-pengalaman yang bersifat batiniah atau
pengalaman-pengalaman subjektif.
Filsafat positivisme merupakan salah
satu aliran filsafat modern yang lahir pada abad ke-19. Dasar-dasar filsafat
ini dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte. Adapun yang
menjadi titik tolak dari pemikiran positivis ini adalah apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan positif, sehingga
metafisika ditolaknya. Di sini, yang dimaksud dengan “positif” adalah segala
gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman obyektif.
Jadi, setelah fakta diperoleh, fakta-fakta tersebut diatur sedemikian rupa agar
dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.
Terdapat ktirikan terhadap
Positivisme Auguste Comte karena ia mengemukakan tiga tahap perkembangan
peradaban dan pemikiran manusia ke dalam tahap teologis, metafisik, dan
positivistik. Pada tahap teologis pemikiran manusia dikuasai oleh dogma agama,
pada tahap metafisik pemikiran manusia dikuasai oleh filsafat, sedangkan pada
tahap positivistik manusia sudah dikuasai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada tahap ketiga itulah aspek humaniora
dikerdilkan ke dalam pemahaman positivistik yang bercorak eksak, terukur,
dan berguna. Ilmu-ilmu humaniora baru dapat dikatakan sejajar dengan ilmu-ilmu
eksak manakala menerapkan metode positivistik. Di sini mulai terjadi metodolatri,
pendewaan terhadap aspek metodologis.
Selain itu,
model filsafat positivisme-nya Auguste Comte tampak begitu mengagungkan akal
dan panca indera manusia sebagai tolok ukur “kebenaran”. Sebenarnya “kebenaran”
sebagai masalah pokok pengetahuan manusia adalah bukan sepenuhnya milik manusia, akan tetapi
hanya merupakan kewajiban manusia untuk berusaha menghampiri dan mendekatinya
dengan “cara tertentu”.
Kata cara tertentu merujuk pada pemikiran Karl
Popper mengenai “kebenaran” dan sumber diperolehnya. Bagi Popper, ini merupakan
tangkapan manusia terhadap objek melalui rasio (akal) dan pengalamannya, namun
selalu bersifat tentatif. Artinya kebenaran selalu bersifat sementara
yakni harus dihadapkan kepada suatu pengujian yang ketat dan gawat (crucial-test)
dengan cara pengujian “trial and error” (proses penyisihan terhadap
kesalahan atau kekeliruan) sehingga “kebenaran” selalu dibuktikan melalui jalur konjektur dan refutasi dengan
tetap konsisten berdiri di atas landasan pemikiran Rasionalisme-kritis dan
Empirisme-kritis. Atau dengan meminjam dialektika-nya Hegel, sebuah “kebenaran”
akan selalu mengalami proses tesis, sintesis, dan anti tesis, dan begitu
seterusnya.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa awal mula dari munculnya positivisme
ada tiga yaitu religius, tradisional dan modern (maju). Membangun masyarakat
yang maju menurut August Comte, agama bukan lagi menjadi landasan utama melainkan
agama sudah mulai dipinggirkan. Material, formal, normative dan spiritual itu ada
setelah munculnya abad kegelapan. Pertentangan antara kerja nyata dengan teori
yang menyebabkan munculnya kekuatan Power
Now yg berawal dari arkhail, tribal, tradisional, feudal, modern,
post-modern sampai kekuatan Power Now.
Adanya
kekuatan Sang Power Now tersebut telah menjadikan orang berlomba-lomba
dan bersaing untuk saling mengalahkan. Siapa yang kuat dialah yang akan menjadi
pemenang dan menjadi pemimpin. Dengan demikian, si pemenang tersebut akan dengan
mudah dapat menguasai dan mengendalikan yang lemah. Inilah yang dianut oleh masyarakat barat atau Negara-negara maju sekarang
ini.
Pemikiran-pemikiran di atas sebenarnya telah mengalami proses Islamisasi pada era
skolastik oleh para filosof Muslim dengan menggunakan sandaran pada konsepsi spiritual. Jika ditelusuri lebih jauh, Islam melalui karya filosof skolastik
memperkenalkan sumber pengetahuan lain di luar rasionalisme dan empirisme yaitu
intuisi dan wahyu.
1. Rasionalisme
Kaum rasionalis menggunakan metode
deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya
didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Prinsip
itu sendiri ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya, fungsi pemikiran
manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang kemudian menjadi
pengetahuannya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis
dalah bersifat apriori. Dalam hal ini, pemikiran
rasional cenderung bersifat subjectif dan solipistik atau hanya benar dalam
kerangka pemikiran tertentu yang berbeda dalam benak orang yang berfikir
tersebut.
2. Empiris
Kaum empiris berpendapat bahwa
pengetahuan manusia itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang
abstrak, namun lewat pengalaman yang konkret. Dengan menggunakan metode
induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum lewat
pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual. Masalah utama
yang timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris ini ialah bahwa
pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung menjadi suatu kumpulan fakta-fakta.
Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal
yang bersifat kontradiktif.
3. Intuisi dan Wahyu
Intuisi merupakan pengetahuan yang
didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersifat personal
dan tidak dapat diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara
teratur maka intuisi ini tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat
dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan kebenaran. Sedangkan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan
oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan
hal-hal yang ghaib (supranatural). Kepercayaan kepada Tuhan merupakan sumber
segala pengetahuan, sebab kepercayaan merupakan titik tolak dalam beragama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar